Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Pijitan turun ke perut. Bokep Colmek Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Keberuntungankah? Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Ia tersenyum ramah. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Tidak akan hadir kesempatan ketiga.




















