Sorot matanya menunjukkan kelicikan.“Hmmmmm… apapun kamu harus membayar hutang kamu…. Bokep Korea ampuuunnnn…. Gimana pak Muklis?”“Haaaaa, bapak beneran?” tanya pak Muklis tidak percaya.“Beneran… sudah, nggak usah banyak omong… bapak mau ga?” tanya Pak Tommy.“Mauuu… mau… iya pak… mau….” sorak pak Muklis.“Ya udah sana…” Pak Tommy menyahut.“Ayoooo, sini mbak Vania Angel… cah ayuuu…. Dua pahanya mengangkangi wajahku.“Akhhhhhhhhhhhhhhh………..” teriakan Pak Tommy yang telah klimak itu.Crott……… crorttt…. Aku tidak bisa marah padanya, karena aku masih berharap untuk bisa bekerja di biro miliknya tersebut. Sementara itu, aku merasakan cairan dingin di anusku. Aku semakin pasrah dengan perlakuan Pak Tommy.




















