Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Alamak.., jauhnya. Bokep Rusia Bicara apa? Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Aku masih termangu. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Betul-betul keras. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Ke bawah lagi: Tidak. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Sial. Kali ini dengan telapak tangan. Ayo..!Aku masih diam saja.




















