Aku terdiam terpaku.“Siapa itu?”, Tak lama kemudian terdengar suaranya. Bokep Korea Pahanya, yang walaupun sedikit gelap namun mulus itu terpampang jelas di mataku. Saat mataku melihat lemari Kak Tina yang terbuka (biasanya selalu dikunci), aku tergerak untuk mencari novel yang disembunyikannya. Aku segera menyudahi keasyikanku. Reflek kuelus sendiri kemaluanku. “Mimpi..” Aku ingat mimpiku, tapi lalu ingat bahwa aku mimpi dengannya, “Gak mimpi apa-apa”. Yang pasti ini menandakan kamu sudah besar. Aku membiarkan saja. Setiap siang sepulang sekolah, sambil mengembalakan tiga ekor sapi milik Pak Rochim, aku membaca Kho Ping Hoo. Perlahan kutekan dadanya, tetap tidak ada reaksi.










