Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Keberuntungankah? Bokep Cina Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekedar untuk dapat tempat duduk.“Makasih” ujarnya ringan.Aq sebetulnya ingin ada sesuatu yg bisa diomongkan lagi, sehingga tdk perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yg terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tdk suka angin kencang-kencang. Lalu pindah ke pangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aq hanya mendengus. Ia tepat berada di tengah-tengah. Kerjaan untuk hari ini sudah aq selesaikan semalam. Aq tdk dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Jangan di sini..!” katanya.Kini ia tdk malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku.




















