Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Vidio Porno Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Makin lama makin jelas. Astaga. Aku tahu di mana ruangannya. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. “Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.




















